Sabtu, 15 April 2017

Makalah Nasikh wa Mansukh

NASIKH WA MANSUKH
الناسخ و المنسوخ))
Oleh:
Fatmawati
A.    Pendahuluan
Ÿxsùr& tbr㍭/ytFtƒ tb#uäöà)ø9$# 4 öqs9ur tb%x. ô`ÏB ÏZÏã ÎŽöxî «!$# (#rßy`uqs9 ÏmŠÏù $Zÿ»n=ÏF÷z$# #ZŽÏWŸ2 
“Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”. QS. An-Nisa’ {4}: 82.
Ayat al-Qur’an tersebut di atas merupakan prinsip yang diyakini kebenarannya oleh setiap muslim. Namun demikian, para ulama berbeda pendapat tentang bagaimana menghadapi ayat-ayat yang sepintas lalu menunjukkan adanya gejala kontradiksi. Dari sinilah kemudian timbul pembahasan tiang nasikh dan mansukh.
Di dalam al-Qur’an, kata naskh dalam berbagai bentuknya ditemukan sebanyak empat kali, yaitu
1.       QS. al-Baqarah [2]: 106
* $tB ô|¡YtR ô`ÏB >ptƒ#uä ÷rr& $ygÅ¡YçR ÏNù'tR 9Žösƒ¿2 !$pk÷]ÏiB ÷rr& !$ygÎ=÷WÏB 3 öNs9r& öNn=÷ès? ¨br& ©!$# 4n?tã Èe@ä. &äóÓx« 퍃Ïs% ÇÊÉÏÈ  
“ayat mana saja  yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. tidakkah kamu mengetahui bahwa Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?”
2.      QS. al-A’raaf [7]: 154
$£Js9ur |Ms3y `tã ÓyqB Ü=ŸÒtóø9$# xs{r& yy#uqø9F{$# ( Îûur $pkÉJyó¡èS Wèd ×puH÷quur tûïÏ%©#Ïj9 öNèd öNÍkÍh5tÏ9 tbqç7ydötƒ ÇÊÎÍÈ  
“sesudah amarah Musa menjadi reda, lalu diambilnya (kembali) luh-luh (Taurat) itu; dan dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya”
3.      QS. al-Hajj [22]: 52
!$tBur $uZù=yör& `ÏB y7Î=ö6s% `ÏB 5Aqß§ Ÿwur @cÓÉ<tR HwÎ) #sŒÎ) #Ó©_yJs? s+ø9r& ß`»sÜø¤±9$# þÎû ¾ÏmÏG¨ÏZøBé& ã|¡Yusù ª!$# $tB Å+ù=ムß`»sÜø¤±9$# ¢OèO ãNÅ6øtä ª!$# ¾ÏmÏG»tƒ#uä 3 ª!$#ur íOŠÎ=tæ ÒOŠÅ3ym ÇÎËÈ  
“dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang Rasulpun dan tidak (pula) seorang Nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat- nya. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”
4.      QS. al-Jaatsiyah [45] :29
#x»yd $oYç6»tFÏ. ß,ÏÜZtƒ Nä3øn=tæ Èd,ysø9$$Î/ 4 $¯RÎ) $¨Zä. ãÅ¡YtGó¡nS $tB óOçFZä. tbqè=yJ÷ès? ÇËÒÈ  
“ (Allah berfirman): "Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan".
Dari segi etimologi, kata tersebut dipakai dalam beberapa arti, antara lain pembatalan, penghapusan, pemindahan dari satu wadah ke wadah lain, pengubahan, dan sebagainya. Sesuatu yang membatalkan, menghapus, memindahkan, dan sebagainya, dinamai nasikh. Sedangkan yang dibatalkan, dihapus, dipindahkan, dan sebagainya, dinamai mansukh.[1]
Sebelum menguraikan arti nasikh dan mansukh dari segi terminologi, perlu digarisbawahi bahwa para ulama sepakat tentang tidak ditemukannya ikhtilaf dalam arti kontradiksi dalam kandungan ayat-ayat al-Qur’an. Dalam menghadapi ayat-ayat yang sepintas lalu dinilai memiliki gejala kontradiksi, mereka mengkompromikannya. Pengkompromian tersebut ditempuh oleh satu pihak tanpa menyatakan adanya ayat yang telah dibatalkan, dihapus, atau tak berlaku lagi, dan adapula dengan menyatakan bahwa ayat yang turun kemudian telah membatalkan kandungan ayat sebelumnya, akibat perubahan kondisi sosial.
Apa pun cara rekonsuliasi tersebut, pada akhirnya mereka sependapat bahwa tidak ada kontradiksi dalam ayat-ayat al-Qur’an. Karena disepakati bahwa syarat kontradiksi, antara lain adalah persamaan subjek, objek, waktu, syarat, dan lain-lain.[2]
Makalah ini akan membahas tentang pengertian naskh, syarat, bentuk-bentuk, pembagian, contoh, dan hikmah naskh.

B.     Pengertian Nasikh wa Mansukh
      1.      Manna’ al-Qatthan:
Naskh menurut bahasa dipergunakan untuk arti izalah (menghilangkan). Misalnya: (نسخت الشمس الظل) artinya, matahari menghilangkan bayang-bayang; dan (ونسخت الريح أثر المشي) artinya, angin menghapuskan jejak perjalanan. Kata naskh juga dipergunakan untuk makna memindahkan sesuatu dari suatu tempat ke tempat lain. Misalnya: (نسخت الكتاب) artinya, saya memindahkan (menyalin) apa yang ada dalam buku. Di dalam al-Qur’an dinyatakan QS. al-Jasiyah 45: 29. Maksudnya, kami memindahkan (mencatat) amal perbuatan ke dalam lembaran (catatan amal).[3]
Menurut istilah naskh ialah mengangkat (menghapuskan)  hukum syara’ dengan dalil hukum (khitab) syara’ yang lain. Dengan perkataan “hukum”, maka tidak termasuk dalam pengertian naskh menghapuskan “kebolehan” yang bersifat asal. Dan kata-kata dengan khitab syara mengecualikan pengangkatan (penghapusan) hukum disebabkan mati atau gila, atau penghapusan dengan ijma’ atau qiyas.
Kata nasikh (yang menghapus) dapat diartikan dengan “Allah”, seperti terlihat dalam مَا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ (QS. al-Baqarah [2]:106; dengan “ayat” atau sesuatu yang dengannya inaskh diketahui, seperti dikatakan:
هذه الآية ناسخة الآية كذا ( ayat ini menghapus ayat anu); dan juga dengan “hukum yang menghapuskan” hukum yang lain.
Mansukh adalah hukum yang diangkat atau dihapuskan. Maka ayat mawaris atau hukum yang terkandung di dalamnya, misalnya, adalah menghapuskan (nasikh) hukuum wasiat kepada orangtua atau kerabat (mansukh) sebagaimana akan dijelaskan. [5]                       
       Badruddin az-Zarkasyi
a.       Izalah (إزالة) bermakna menghilangkan, seperti firman Allah dalam QS.  al-Hajj: [22] “Allah menghilangkan apa  yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat- nya”
b.      Tabdil (التبديل) bermakna menggantikan atau menukar, seperti pada firman Allah QS. an-Nahl [16]: 101
c.       Tahwil (التحويل) bermakna memalingkan, seperti memalingkan pusaka dari seseorang kepada orang lain.
d.      Naql (النقل) bermakna menukilkan atau memindahkan dari suatu tempat ke tempat yang lain seperti pada perkataan: “nasakhtul kitaba” (saya menukilkan isi kitab), yaitu apabila kita nukilkan apa yang di dalam kitab itu meniru [7]

Gambar B.2.1[8]
     3.      Subhi As-Shalih
Secara etimologis, kata “an-nasakh” merupakan kata yang memiliki makna lebih dari satu. Kata ank-nasakh bisa diartikan menghilangkan, menukar, mengganti sesuai dengan firman Allah
An-nasakh juga bisa diartikan memindahkan, sesuai dengan kata dalam kajian waris.
Perbedaan makna an-nasakh merupakan pembatasan makna itu sendiri baik secara etimologi ataupun epistemologi dan merupakan hal yang memiliki ikatan yang harus diringkas. Supaya pegguna al-Qur’an sesuai dengan penjelasan di ayat berikut:

Sehingga pengertian an-nasakh tidak keluar dari konteks yang sebenarnya dan sesuai dengan tata bahasa Arab. Pengertian an-Nasakh secara epistemologi adalah:
رفع حكم شرعي بدليل شرعي متأخر
“mengangkat atau menghapus hukum syara’ dengan dalil syara’ yang lain yang datang kemudian”.[9]
4.      DR. Kadar M. Yusuf
Naskh secara terminologi dapat didefinisikan kepada “mengangkat hukum syara’ yang datangnya lebih awal, dan digantikan oleh hukum lain yang munculnya kemudian”. Jadi, ada hukum yang digantikan dan ada pula hukum yang menggantikan, atau ada hukum yang diangkat dan ada pula hukum yag mengangkat.[10]
C.    Ruang Lingkup Nasakh
Dapat diketahui bahwa naskh hanya terjadi pada perintah dan larangan, baik yang diungkapkan secara tegas dan jelas maupun yang diungkapkan dengan kalimat berita (khabar) atau nahy (larangan), jika hal tersebut tidak berhubungan dengan hal aqidah, yang berfokus kepada Zat Allah, Sifat-sifat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya dan hari kemudian, serta tidak berkaitan pula dengan etika dan akhlak atau dengan pokok-pokok ibadah dan mu’amalah. Hal ini karena semua syariat ilahi tidak lepas dari pokok-pokok tersebut. Sedang dalam masalah pokok (ushul) semua syariat adalah sama. Allah berfirman:
 tíuŽŸ° Nä3s9 z`ÏiB ÈûïÏe$!$# $tB 4Óœ»ur ¾ÏmÎ/ %[nqçR üÏ%©!$#ur !$uZøŠym÷rr& y7øs9Î) $tBur $uZøŠ¢¹ur ÿ¾ÏmÎ/ tLìÏdºtö/Î) 4ÓyqãBur #Ó|¤ŠÏãur ( ÷br& (#qãKŠÏ%r& tûïÏe$!$# Ÿwur (#qè%§xÿtGs? ÏmŠÏù 4 uŽã9x. n?tã tûüÏ.ÎŽô³ßJø9$# $tB öNèdqããôs? ÏmøŠs9Î) 4 ª!$# ûÓÉ<tFøgs Ïmøs9Î) `tB âä!$t±o üÏökuur Ïmøs9Î) `tB Ü=Ï^ムÇÊÌÈ  
“Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)” (QS. as-Syura [42]: 13)
$ygƒr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä |=ÏGä. ãNà6øn=tæ ãP$uÅ_Á9$# $yJx. |=ÏGä. n?tã šúïÏ%©!$# `ÏB öNà6Î=ö7s% öNä3ª=yès9 tbqà)­Gs? ÇÊÑÌÈ  
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. al-Baqarah [2]: 183).

bÏiŒr&ur Îû Ĩ$¨Y9$# Ædkptø:$$Î/ šqè?ù'tƒ Zw%y`Í 4n?tãur Èe@à2 9ÏB$|Ê šúüÏ?ù'tƒ `ÏB Èe@ä. ?dksù 9,ŠÏJtã ÇËÐÈ  

“dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh”(QS. al-Hajj [22]: 27).
Dalam hal qisas Allah berfirman:
$oYö;tFx.ur öNÍköŽn=tã !$pkŽÏù ¨br& }§øÿ¨Z9$# ħøÿ¨Z9$$Î/ šú÷üyèø9$#ur Èû÷üyèø9$$Î/ y#RF{$#ur É#RF{$$Î/ šcèŒW{$#ur ÈbèŒW{$$Î/ £`Åb¡9$#ur Çd`Åb¡9$$Î/ yyrãàfø9$#ur ÒÉ$|ÁÏ% 4 `yJsù šX£|Ás? ¾ÏmÎ/ uqßgsù ×ou$¤ÿŸ2 ¼ã&©! 4 `tBur óO©9 Nà6øts !$yJÎ/ tAtRr& ª!$# y7Í´¯»s9'ré'sù ãNèd tbqßJÎ=»©à9$# ÇÍÎÈ  
“dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, Maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim”(QS. al-Ma’idah [5]: 45)
Dalam hal jihad, Ia berfirman:
ûÉiïr'x.ur `ÏiB %cÓÉ<¯R Ÿ@tG»s% ¼çmyètB tbqÎn/Í ×ŽÏWx. $yJsù (#qãZydur !$yJÏ9 öNåku5$|¹r& Îû È@Î6y «!$# $tBur (#qàÿãè|Ê $tBur (#qçR%s3tGó$# 3 ª!$#ur =Ïtä tûïÎŽÉ9»¢Á9$# ÇÊÍÏÈ  
“dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar”(QS. Ali-Imran [3]: 146)
Dan mengenai akhlak, Ia berfirman:
Ÿwur öÏiè|Áè? š£s{ Ĩ$¨Z=Ï9 Ÿwur Ä·ôJs? Îû ÇÚöF{$# $·mttB ( ¨bÎ) ©!$# Ÿw =Ïtä ¨@ä. 5A$tFøƒèC 9qãsù ÇÊÑÈ  
“dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”(QS. Luqman [31]:18).
Naskh tidak terjadi dalam berita, khabar yang jelas-jelas tidak bermakna talab (tuntutan; perintah dan larangan), seperti janji dan ancaman.[11]
D.    Syarat Terjadinya Naskh
Nasakh tidak bisa ditentukan oleh seseorang sesuai dengan kehendaknya, seperti yang tergambar dalam defenisi diatas. Ia mempunyai syarat- syarat, yaitu sebagai berikut[12];
     a.       Hukum yang di-mansukh-kan itu adalah hukum syara’. Maksudnya, tidak terrmasuk dalam kajian ini pembatalan hukum ghayr asy-syar’ (yang bukan hukum syara’) atau yang tidak menyangkut dengan hukum.
     b.      Hukum yang terkandung pada nash an-Nasikh bertentangan dengan hukum yang terkandung dalam nash al-mansukh. Nasakh tidak akan terjadi jika makna-makna nash itu tidak bertentangan.
    c.     Dalil yang di- nasakh-kan mesti muncul lebih awal dari dalil yang me-nasakh-kan,tidak boleh sebaliknya. Maka ayat al-makkiyah tidak bias me-nasakh-kan ayat al-madaniyah. Akan tetapi, ayat al madaniyah dapat menasakhkan ayat al-makkiyah.
    d.    Hukum yang dinasakh-kan itu mestilah hal- hal yang menyangkut dengan perintah, larangan, dan hukuman. Nasakh tidak terrjadi pada ayat-ayat yang menyangkut berita. Sebab jika nasakh terjadi pada ayat- ayat berita berarti telah terjadi kebohongan pada ayat yang dinasakh-kan. Hal ini jelas mustahil.
    e.       Hukum yang di-nasakh-kan tidak terbatas pada waktu tertentu, sebab jika tidak demikian  maka hukum akan berakhir dengan berakhirnya waktu tersebut. Dan yang demikian tidak dinamakan nasakh.
   f.       Hukum yang terkandung dalam nash al-mansukh, telah di tetapkan sebelum munculnya nash an-naasikh.
    g.      Status nash an-nasikh mesti sama dengan nash al-mansukh. Maka, nash yang zhanni al-wurud tidak bisa menasahkan nash yang qath’i al-wurud. Jika ditemukan pertentangan antara ke duanya, maka jelas yang di pegangi adalah nash qath’i al-wurud.
Terdapat beberapa kriteria ayat-ayat yang tidak mungkin terjadi padanya nasakh. Hal itu dapat di lihat dari isi kandungan ayat tersebut yaitu, yang pertama, teks ayat yang mengandung hukum prinsipil yang tidak berbeda antar semua manusia di sebabkan oleh situasi dan kondisi mereka. Seperti ayat-ayat yang mengenai iman, ibadah, berbuat baik kepada orang tua, berlaku jujur dan lain sebagainya. Ke dua, teks ayat yang mengandung suatu hukum yang di nyatakan keberlakuan tetap tidak akan berubah. Hal ini dinyatakan dengan menggunakan kata abadan (selama-lamanya), seperti yang terlihat dalam firman Allah:
tûïÏ%©!$#ur tbqãBötƒ ÏM»oY|ÁósßJø9$# §NèO óOs9 (#qè?ù'tƒ Ïpyèt/ör'Î/ uä!#ypkà­ óOèdrßÎ=ô_$$sù tûüÏZ»uKrO Zot$ù#y_ Ÿwur (#qè=t7ø)s? öNçlm; ¸oy»pky­ #Yt/r& 4 y7Í´¯»s9'ré&ur ãNèd tbqà)Å¡»xÿø9$# ÇÍÈ 
“dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. dan mereka Itulah orang-orang yang fasik” QS. An-nur [24]: 4.
Kata “abadan” dalam ayat ini menunjukkan tetapnya berlaku penolakan kesaksian para penuduh perbuatan zina, ia tidak berubah dan tidak boleh di nasakhkan. Dan ciri  ke tiga adalah ayat-ayat yang mengandung berita seperti yang telah disinggung dalam syarat nasakh di atas.[13]
E.     Bentuk-bentuk Nasakh
1.     Ayat yang di-nasakh-kan bacaan dan hukumnya, sehingga ayat tersebut tidak tertulis lagi dalam al-Qur’an. Demikian pula hukumnya, ia tidak diamalkan lagi. Contohnya ayat mengenai frekuensi menyusu bagi anak yang membuat ia haram menikah dengan ibu yang menyusukannya; yaitu sepuluh kali kemudian di-nasakh-kan oleh lima kali menyusu sehingga yang diharamkan adalah lima kali menyusu.[14] Aisyah radhiyallahu’anha berkata:
كَانَ فِيمَا أُنْزِلَ مِنَ الْقُرْآنِ عَشْرُ رَضَعَاتٍ مَعْلُومَاتٍ يُحَرِّمْنَ ثُمَّ نُسِخْنَ بِخَمْسٍ مَعْلُومَاتٍ فَتُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُنَّ فِيمَا يُقْرَأُ مِنَ الْقُرْآنِ
“pernah diturunkan (kepada nabi) sepuluh kali menyusu yang dimaklumi yang menyebabkan haram menikahi, kemudian dinasakhkan dengan lima kali yang dimaklumi. Selanjutnya Rasul wafat, ayat-ayat itu dibaca sebagai bagian dari al-Qur’an.
2.      Ayat yang di-nasakh-kan hukum, tetapi bacaannya masih ada.[15] Seperti firman Allah:
ÓÉL»©9$#ur šúüÏ?ù'tƒ spt±Ås»xÿø9$# `ÏB öNà6ͬ!$|¡ÎpS (#rßÎhô±tFó$$sù £`ÎgøŠn=tã Zpyèt/ör& öNà6ZÏiB ( bÎ*sù (#rßÍky­  Æèdqä3Å¡øBr'sù Îû ÏNqãç6ø9$# 4Ó®Lym £`ßg8©ùuqtFtƒ ßNöqyJø9$# ÷rr& Ÿ@yèøgs ª!$# £`çlm; WxÎ6y ÇÊÎÈ  

“dan (terhadap) Para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu (yang menyaksikannya). kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, Maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan lain kepadanya”. (QS. An-Nisa’[4]: 15)

Ketentuan hukuman bagi pezina, yaitu ditahan di rumah sampai meninggal, yang terdapat dalam ayat ini telah di-nasakh-kan. Akan tetapi teksnya masih ada. Ayat yang me-nasakh-kannya adalah
èpuÏR#¨9$# ÎT#¨9$#ur (#rà$Î#ô_$$sù ¨@ä. 7Ïnºur $yJåk÷]ÏiB sps($ÏB ;ot$ù#y_ ( Ÿwur /ä.õè{ù's? $yJÍkÍ5 ×psùù&u Îû ÈûïÏŠ «!$# bÎ) ÷LäêZä. tbqãZÏB÷sè? «!$$Î/ ÏQöquø9$#ur ̍ÅzFy$# ( ôpkôuŠø9ur $yJåku5#xtã ×pxÿͬ!$sÛ z`ÏiB tûüÏZÏB÷sßJø9$# ÇËÈ  

“perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman”(QS. An-Nuur [24]:2).

Jadi, hukuman bagi pezina berubah dari kurungan menjadi dicambuk seratus kali.

3.      Ayat yang di-nasakh-kan bacaannya, tetapi hukumnya masih diamalkan.[16] Hal ini banyak terdapat dalam al-Qur’an, di antaranya:
a.       Aisyah berkata; “dahulunya di zaman Nabi shallallahu ’alihi wassalam, surah al-Ahzab dibaca sebanyak 200 ayat. Tatkala Utsman menulis mushaf, ia hanya tinggal 73 ayat saja seperti yang terlihat sekarang. Di antara ayat yang tidak ditulis karena telah di-nasakh-kan adalah ayat mengenai hukum rajam, yaitu
إِذَا زَنَيَا الشَّيْخُ وَالشَّيْخَةُ فَارْجُمُوهُمَا الْبَتَّةَ نَكَالاً مِنَ اللهِ وَ اللهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
apabila orangtua laki-laki dan orangtua perempuan brzina, maka rajamlah keduanya, hal itu sebagai pelajaran dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui

b.      Abu Musa Asy-Asy’ari juga mengatakan, “pernah turun suatu ayat yang termuat dalam surah at-Taubah [9], kemudian ayat itu diangkat.” Abu Musa menghafal ayat itu, ayat tersebut adalah
sesungguhnya Allah menguatkan agama ini dengan bangsa-bangsa disebabkan karena akhlak mereka. Dan seandainya manusia itu memiliki dua buah lembah harta, maka ia berkeinginan mendapat lembah ketiga. Rongga manusia tidak ada yang dapat memenuhinya kecuali tanah. Allah menerima tobat orang-orang yang bertobat kepada-Nya”
Pengkategorian bentuk nasakh di atas didasarkan atas keberadaan teks ayat dan pengamalan hukum yang terkandung di dalamnya. Apabila dilihat dari segi keluasan jangkauan nasakh terhadap hukum yang terkandung dalam suatu ayat, maka nasakh itu dapat pula diklasifikasikan kepada dua macam, yaitu nasakh kulli dan nasakh juz’i.
Nasakh kulli adalah suatu nasakh yang mencakupi seluruh hukum yang terkandung dalam suatu ayat, seperti yang terlihat dalam nasakh hukum wajibnya wasiat oleh hukum mawaris dan penghapusan iddah wafat selama satu tahun yang digantikan oleh empat bulan sepuluh hari.
Nasakh juz’i ialah suatu ketentuan hukum yang disyariatkan secara umum dan universal yang mencakupi seluruh individu, kemudia dihapuskan atau tidak diberlakukan atas individu yang mempunyai kriteria tertentu.dengan kata lain, suatu pe-nasakh-an yang tidak mencakupi seluruh individu yang terkandung dalam suatu ayat, tetapi sebagiannya saja. Seperti firman Allah:
tûïÏ%©!$#ur tbqãBötƒ ÏM»oY|ÁósßJø9$# §NèO óOs9 (#qè?ù'tƒ Ïpyèt/ör'Î/ uä!#ypkà­ óOèdrßÎ=ô_$$sù tûüÏZ»uKrO Zot$ù#y_
“dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera” (QS. An-Nuur [24]: 4).

Sebagian hukum yang terkandung dalam ayat ini telah di-nasakh-kan oleh surah An-Nuur [24]: 6 sehingga ayat 4 hanya berlaku atas penuduh yang bukan suami tertuduh, “ayat itu tidak berlaku atas tuduhan suami terhadap istri.” Bagi yang terakhir ini mempunyai ketentuan khusus, yaitu li’an.[17] surah an-Nuur ayat 6 yang men-nasakh-kan sebagian kandungan ayat 4 itu adalah
tûïÏ%©!$#ur tbqãBötƒ öNßgy_ºurør& óOs9ur `ä3tƒ öNçl°; âä!#ypkà­ HwÎ) öNßgÝ¡àÿRr& äoy»ygt±sù óOÏdÏtnr& ßìt/ör& ¤Nºy»uhx© «!$$Î/   ¼çm¯RÎ) z`ÏJs9 šúüÏ%Ï»¢Á9$# ÇÏÈ  
“dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), Padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, Maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, Sesungguhnya Dia adalah Termasuk orang-orang yang benar”

Nasakh juz’i disyaratkan apabila muncul pada suatu ketika ketentuan suatu hukum secara umum, kemudian muncul ketentuan baru yang memberlakukan ketentuan umum itu pada hal-hal atau individu tertentu saja. Atau dengan kata lain, munculnya ketentuan mengenai pemberlakuan suatu hukum pada individu tertentu saja, setelah ditetapkan beberapa lama pemberlakuannya secara umum. Inilah yang dimaksud dengan nasakh juz’i. Jika pemberlakuan hukum pada individu atau hal-hal tertentu itu muncul bersamaan dengan ketentuannya secara umum, maka tidak disebut dengan  nasakh juz’i, tetapi ia merupakan takhsis (pengkhususan).[18]
Nasakh juga dibagi menjadi 2, yaitu:
a.       Nasakh sharih (jelas), yaitu pe-nasakh-an suatu hukum yang terkandung dalam ayat disebutkan secara jelas, seperti surah Al-Anfal [8]: 65 yang di-nasikh-kan oleh ayat 66 surah yang sama.
$pkšr'¯»tƒ ÓÉ<¨Z9$# ÇÚÌhym šúüÏZÏB÷sßJø9$# n?tã ÉA$tFÉ)ø9$# 4 bÎ) `ä3tƒ öNä3ZÏiB tbrçŽô³Ïã tbrçŽÉ9»|¹ (#qç7Î=øótƒ Èû÷ütGs($ÏB 4 bÎ)ur `ä3tƒ Nà6ZÏiB ×ps($ÏiB (#þqç7Î=øótƒ $Zÿø9r& z`ÏiB šúïÏ%©!$# (#rãxÿx. óOßg¯Rr'Î/ ×Pöqs% žw šcqßgs)øÿtƒ ÇÏÎÈ  

“Hai Nabi, Kobarkanlah semangat Para mukmin untuk berperang. jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti”(QS. Al-Anfal [8]:65)
z`»t«ø9$# y#¤ÿyz ª!$# öNä3Ytã zNÎ=tæur žcr& öNä3ŠÏù $Zÿ÷è|Ê 4 bÎ*sù `ä3tƒ Nà6ZÏiB ×ps($ÏiB ×otÎ/$|¹ (#qç7Î=øótƒ Èû÷ütGs($ÏB 4 bÎ)ur `ä3tƒ öNä3ZÏiB ×#ø9r& (#þqç7Î=øótƒ Èû÷üxÿø9r& ÈbøŒÎ*Î/ «!$# 3 ª!$#ur yìtB tûïÎŽÉ9»¢Á9$# ÇÏÏÈ  
“sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar”(QS. al-Anfal [8]: 66).

Awal ayat 66 itu secara jelas menegaskan (sekarang Allah memberikan keringanan kepadamu) yang kemudian diikuti oleh ketentuan baru. Ungkapan itu menunjukkan bahwa hukum yang terkandung dalam ayat 65 tidak diamalkan lagi, ia telah digantikan oleh ketentuan yang terdapat dalam ayat 66.
b.      Nasakh dhimni (mengandungi), secara tegas teks al-Qur’an tidak menyebutkan terjadinya perubahan atau penggantian ketentuan suatu hukum. Akan tetapi, suatu ketentuan hukum itu bertentangan dengan ketentuan lain yang datang kemudian, di mana pertentangan itu tidak dapat dikompromikan, nasakh seperti ini banyak terdapat dalam al-Qur’an, seperti nasakh kewajiban mewariskan harta atas orang yang akan meninggal dunia terhadap kedua orangtua dan kaum kerabat oleh ayat mawaris (QS. al-Baqarah [2]: 180 dengan QS. an-Nisa’ [4]: 11-12)
|=ÏGä. öNä3øn=tæ #sŒÎ) uŽ|Øym ãNä.ytnr& ßNöqyJø9$# bÎ) x8ts? #·Žöyz èp§Ï¹uqø9$# Ç`÷ƒyÏ9ºuqù=Ï9 tûüÎ/tø%F{$#ur Å$rã÷èyJø9$$Î/ ( $ˆ)ym n?tã tûüÉ)­FßJø9$# ÇÊÑÉÈ  
“diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, Berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma'ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa”
ÞOä3ŠÏ¹qムª!$# þÎû öNà2Ï»s9÷rr& ( ̍x.©%#Ï9 ã@÷VÏB Åeáym Èû÷üusVRW{$# 4 bÎ*sù £`ä. [ä!$|¡ÎS s-öqsù Èû÷ütGt^øO$# £`ßgn=sù $sVè=èO $tB x8ts? ( bÎ)ur ôMtR%x. ZoyÏmºur $ygn=sù ß#óÁÏiZ9$# 4 Ïm÷ƒuqt/L{ur Èe@ä3Ï9 7Ïnºur $yJåk÷]ÏiB â¨ß¡9$# $£JÏB x8ts? bÎ) tb%x. ¼çms9 Ó$s!ur 4 bÎ*sù óO©9 `ä3tƒ ¼ã&©! Ó$s!ur ÿ¼çmrOÍurur çn#uqt/r& ÏmÏiBT|sù ß]è=W9$# 4 bÎ*sù tb%x. ÿ¼ã&s! ×ouq÷zÎ) ÏmÏiBT|sù â¨ß¡9$# 4 .`ÏB Ï÷èt/ 7p§Ï¹ur ÓÅ»qム!$pkÍ5 ÷rr& AûøïyŠ 3 öNä.ät!$t/#uä öNä.ät!$oYö/r&ur Ÿw tbrâôs? öNßgƒr& Ü>tø%r& ö/ä3s9 $YèøÿtR 4 ZpŸÒƒÌsù šÆÏiB «!$# 3 ¨bÎ) ©!$# tb%x. $¸JŠÎ=tã $VJŠÅ3ym ÇÊÊÈ  
* öNà6s9ur ß#óÁÏR $tB x8ts? öNà6ã_ºurør& bÎ) óO©9 `ä3tƒ £`ßg©9 Ó$s!ur 4 bÎ*sù tb$Ÿ2  Æßgs9 Ó$s!ur ãNà6n=sù ßìç/9$# $£JÏB z`ò2ts? 4 .`ÏB Ï÷èt/ 7p§Ï¹ur šúüϹqム!$ygÎ/ ÷rr& &úøïyŠ 4  Æßgs9ur ßìç/9$# $£JÏB óOçFø.ts? bÎ) öN©9 `à6tƒ öNä3©9 Ós9ur 4 bÎ*sù tb$Ÿ2 öNà6s9 Ó$s!ur £`ßgn=sù ß`ßJV9$# $£JÏB Läêò2ts? 4 .`ÏiB Ï÷èt/ 7p§Ï¹ur šcqß¹qè? !$ygÎ/ ÷rr& &ûøïyŠ 3 bÎ)ur šc%x. ×@ã_u ß^uqム»'s#»n=Ÿ2 Írr& ×or&tøB$# ÿ¼ã&s!ur îˆr& ÷rr& ×M÷zé& Èe@ä3Î=sù 7Ïnºur $yJßg÷YÏiB â¨ß¡9$# 4 bÎ*sù (#þqçR%Ÿ2 uŽsYò2r& `ÏB y7Ï9ºsŒ ôMßgsù âä!%Ÿ2uŽà° Îû Ï]è=W9$# 4 .`ÏB Ï÷èt/ 7p§Ï¹ur 4Ó|»qム!$pkÍ5 ÷rr& AûøïyŠ uŽöxî 9h!$ŸÒãB 4 Zp§Ï¹ur z`ÏiB «!$# 3 ª!$#ur íOŠÎ=tæ ÒOŠÎ=ym ÇÊËÈ  

11. “Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, Maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, Maka ia memperoleh separo harta. dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), Maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, Maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.
12. “dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, Maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) seduah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. jika kamu mempunyai anak, Maka Para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), Maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, Maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris).(Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari'at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun”

F.     Pembagian Nasakh


Gambar F.1.1[19]

Gambar F.1.2.[20]

Gambar F.1.3[21]
G.    Contoh-contoh Nasakh
Sebanyak 21 tempat ayat-ayat yang mansukh, yaitu
1.      QS. al-Baqarah [2]: 115 dengan QS. al-Baqarah [2]: 144
Telah dikatakan, dan inilah yang benar, bahwa ayat pertama tidak dinasakh sebab ia berkenan dengan shalat sunnah saat dalam perjalanan yang dilakukan di atas kendaraan, juga dalam keadaan takut dan darurat. Dengan demikian hukum ayat ini tetap berlaku. Sedang ayat kedua berkenaan dengan shalat fardhu lima waktu. Ayat kedua ini menasakh perintah menghadap ke Baitu Maqdis yang ditetapkan dalam sunnah.
2.      QS. al-Baqarah [2]: 180 dengan QS. an-Nisa’ [4]: 11-12 dan hadits
Dikatakan QS. al-Baqarah [2]: 180 mansukh dengan QS. an-Nisa’ [4]: 11-12 tentang kewarisan dan oleh hadits:
قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: إن الله أعطى كل ذى حق حقه فلا وصية لوارث (رواه ابو داود و الترمذى), وقال حسن صحيح
3.      QS. al-Baqarah [2]: 184 dengan QS. al-Baqarah [2]: 185
4.      QS. al-Baqarah [2]: 217 dengan QS. at-Taubah [9]: 36
Ada yang berpendapat, keumuman perintah berperang dalam ayat ini harus diartikan sebagai perintah berperang di luar bulan-bulan haram. Karena itu dalam hal ini tidak ada naskh.
5.      QS. al-Baqarah [2]: 240 dengan QS. al-Baqarah [2]: 234
Ada yang berpendapat, ayat pertama muhkam, sebab ia berkaitan dengan pemberian wasiat bagi istri jika istri itu tidak keluar dari rumah suami dan tidak kawin lagi. Sedang ayat kedua berkenan dengan masalah iddah. Dengan demikian maka tak ada pertentangan antara kedua ayat tersebut.
6.      QS. al-Baqarah [2]: 284 dengan QS. al-Baqarah [2]: 286
7.      QS. an-Nisa’ [4]: 8, ayat ini dinasakh oleh ayat mawaris. Namun,ada yang berpendapat, dan inilah yang benar, ayat tersebut tidak mansukh, dan hukumnya tetap berlaku sebagai anjuran.
8.      QS. an-Nisa’ [4]: 15-16 dengan QS. an-Nuur [24]: 2
9.      QS. al-Anfal [8]: 65 dengan QS. al-Anfal [8]: 66
10.  QS. at-Taubah [9]: 41 dengan QS. at-Taubah [9]: 91 dan 122, dan dalam hal ini, ada yang berpendapat, ayat tersebut termasuk kategori takhsis, bukan naskh.[22] 
H.    Hikmah adanya Naskh
Adanya nasikh-mansukh tidak dapat dipisahkan dari sifat turunnya ­Al-Qur’an dan tujuan yang ingin dicapainya. Turunnya al-Qur’an tidak terjadi sekaligus, tetapi berangsur-angsur dalam waktu 20 tahun lebih. Hal ini memang dipertanyakan orang ketika itu, lalu al-Qur’an, lalu al-Qur’an menjawab, pentahapan itu untuk pemantapan, khususnya di bidang hukum. Dalam hal ini, Syeikh al-Qasimi berkata, sesungguhnya al-Khaliq mendidik bangsa Arab selama 23 tahun dalam proses bertahap sehingga mencapai kesempurnannya dengan perantara berbagai sarana sosial. Hukum-hukum itu mulanya bersifat kedaerahan kemudian secara bertahap diganti Allah dengan yang lain sehingga bersifat universal.
Demikianlah, sunnah al-Khaliq diberlakukan terhadap perorangan dan bangsa-bangsa yang sama. Jika engkau melayangkan pandanganmu ke alam yang hidup ini, engkau pasti akan mengetahui bahwa nasikh adalah undang-undang alami yang lazim, baik dalam bidang material maupun spiritual, seperti proses kejadian manusia dari unsur-unsur sperma dan telur kemudian menjadi janin, lalu berubah menjadi anak, kemudian remaja, dewasa kemudian orang tua dan seterusnya. Setiap proses peredaran itu merupakan bukti nyata dalam alam ini selalu berjalan proses tersebut secara rutin. Dan kalau nasikh yang terjadi pad alam raya tidak lagi diingkari terjadinya, lalu kita tidak mempersoalkan adanya penghapusan dan proses pengembangan serta tadarruj dari yang rendah ke yang lebih tinggi.
Untuk mengatur kehidupan manusia, Allah subhanawata’ala menurunkan syariat melalui al-Qur’an. Syariat Allah adalah perwujudan dari rahmat-Nya. Dialah yang Maha Mengetahui kemaslahatan hidup hamba-Nya. Melalui sarana syariat, Dia mendidik manusia hidup tertib dan adil untuk mencapai kehidupan yang aman, sejahtera, dan bahagia di dunia dan akhirat.
Setelah diketahui berbagai aspek nasikh, perlu dijelaskan beberapa hikmah adanya nasikh dan mansukh. Adapun hikmahnya adalah:
a.       Untuk menunjukkan bahwa syariat Islam adalah syariat yang paling sempurna. Karena itu, syariat agama Islam ini menasikh syariat dari agama-agama sebelum Islam. Sebab, syariat Islam ini telah mencakup semua kebutuhan seluruh umat manusia dari segala periodenya, melalui dari Nabi Adam alaihissalam hingga Nabi akhir zaman Muhammad sallallahualaihiwassalam;
b.      Selalu menjaga kemaslahatan hamba agar kebutuhan mereka senantisa terpelihara dalam semua keadaan dan di sepanjang zaman;
c.       Untuk menjaga agar perkembangan hukum Islam selalu relevan dengan semua situasi dan kondisi umat yang mengamalkan, mulai dari yang sederhana sampai ke tingkat yang sempurna;
d.      Untuk menguji mukallaf, apakah ada dengan adanya perubahan dan pergantian-pergantian dari nasikh itu mereka tetap taat, setia mengamalkan hukum-hukum Allah, atau sebaliknya;
e.       Untuk menambah kebaikan dan pahala bagi hamba yang selalu setia mengamalkan hukum-hukum perubahan, walaupun dari yang mudah kepada yang sukar. Sebab, semakin sukar menjalankan suatu peraturan Allah, akan semakin besar manfaat, faedah, dan pahalanya. Contohnya, pada mulanya mereka cukup untuk meninggalkan kebiasaan yang sudah lama seperti kasus minum khamar. Pada mulanya masih dinyatakan bahwa khamar menandung manfaat akan tetapi dosanya lebih berat dari manfaatnya, kemudian khamar diharamkan sama sekali[23] ;
f.       Untuk memberi dispensasi dan keringanan untuk umat Islam, sebab dalam beberapa nasikh banyak yang memperingan beban dan memudahkan pengamalan guna menikmati kebijaksanaan dan kemurahan Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.[24]

I.       Kesimpulan
Naskh secara terminologi dapat didefinisikan kepada “mengangkat hukum syara’ yang datangnya lebih awal, dan digantikan oleh hukum lain yang munculnya kemudian”. Jadi, ada hukum yang digantikan dan ada pula hukum yang menggantikan, atau ada hukum yang diangkat dan ada pula hukum yang mengangkat.
Naskh tidak terjadi dalam berita, khabar yang jelas-jelas tidak bermakna talab (tuntutan; perintah dan larangan), seperti janji dan ancaman. Jadi, nasakh hanya berlaku pada hukum syara’.
Hikmah dari adanya nasakh adalah memelihara kepentingan hamba; perkembangan tasyri’ menuju tingkat sempurna sesuai dengan perkembangan dakwah dan kondisi umat manusia; cobaan dan ujian untuk mukallaf untuk mengikutinya atau tidak; dan menghendaki kebaikan dan kemudahan bagi umat. Sebab nasakh itu beralih ke hal yang lebih berat maka di dalamnya terdapat tambahan pahala, dan jika beralih ke hal yang lebih ringan maka ia mengandung kemudahan dan keringan.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Badruddin az-Zarkasyi, Al-Burhan Fi Ulumil Qur’an, Kairo: Darus Hadits, 2006.
Kadar M. Yusuf, Studi al-Qur’an ed. Kedua, Jakarta: Amzah, 2015.
Kodri H. Nawawi, “Nasikh Mansukh dalam Al-Qur’an”, Jurnal Pemikiran Islam, 1:29, (Pekanbaru, Januari 2004).
Manna Khalil al-Qatthan, Mabahis Fi Ulumil Qur’an, Kairo: Maktabah Wahbah, 2007.
Manna Khalil al-Qatthan, Studi Ilmu-Ilmu al-Qur’an, diterj. Mudzakir AS, Bogor: Litera AntarNusa, 1996.
Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Ilmu-ilmu al-Qur’an, Semarang: Pustaka Rizki, 2002.
Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran, Bandung: Mizan, 2013.
Rachmat Syafe’i Pengantar Ilmu Tafsir, Bandung: Pustaka Setia, 2006.
Subhi As-Shalih, Mabahis Fi Ulumil Qur’an, Kairo.




[1] Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran, Bandung: Mizan, 2013, h. 221.
[2] Ibid., h. 222.
[3] Manna Khalil al-Qatthan, Studi Ilmu-Ilmu al-Qur’an, diterj. Mudzakir AS, Bogor: Litera AntarNusa, 1996, h 326.
[4] Manna Khalil al-Qatthan, Mabahis Fi Ulumil Qur’an, Kairo: Maktabah Wahbah, 2007, h. 223.
[5] Manna Khalil al-Qatthan, op.cit., h. 327.
[6] Manna khalil al-Qatthan, op.cit., h. 224.
[7] Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Ilmu-ilmu al-Qur’an, Semarang: Pustaka Rizki, 2002, h. 150.
[8] Badruddin az-Zarkasyi, Al-Burhan Fi Ulumil Qur’an, Kairo: Darus Hadits, 2006, h. 347.
[9] Subhi As-Shalih, Mabahis Fi Ulumil Qur’an, Kairo: , h. 259.
[10] Kadar M. Yusuf, Studi al-Qur’an ed. Kedua, Jakarta: Amzah, 2015, h. 110.
[11] Manna khalil al-Qatthan, op.cit., h. 329.
[12] Kadar M. Yusuf, op.cit., h. 111.
[13] Kadar M. Yusuf, ibid., h. 112.
[14] Ibid.
[15] Ibid., h. 113.
[16] Ibid., h. 114.
[17] Ibid., h. 115.
[18] Ibid., h. 116
[19] Manna Khalil al-Qatthan., op.cit., h. 228.
[20] Ibid., h. 229.
[21] Ibid., h. 230.
[22] Manna Khalil al-Qatthan, op.cit., h. 344-349.
[23] Rachmat Syafe’i Pengantar Ilmu Tafsir, Bandung: Pustaka Setia, 2006, h. 101.
[24] Kodri H. Nawawi, “Nasikh Mansukh dalam Al-Qur’an”, Jurnal Pemikiran Islam, 1:29, (Pekanbaru, Januari 2004), 42-44. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar